Kulihat
cuaca begitu gelap diluar, akhirnya kuputuskan untuk duduk sambil menghayalkan
ide apa yang akan ku tulis hari ini.
Mulai
ku ketik kata demi kata agar jari jemari ku semakin lincah memainkan perannya
menyulap kata-kata menjadi rangkaian kalimat yang menyihir…
Mulai
ku coba mengeluarkan isi yang ada dalam kepala ku… sebanyak apa pun isinya
hari ini, pasti akan ku keluarkan semuanya. Mau banyak atau sedikit isinya pun
harus tetap ku keluarkan…
Mudah-mudahan
isinya banyak trus berguna juga buat teman-teman ku hari ini dan mudah-mudahan
makin nambah juga stoknya.
Baru
setengah halaman ku ketik, tiba-tiba ada yang mendatangi ku dan langsung bertanya….
Lagi sibuk ya?
Ku
jawab dengan santai: Ah nggak juga, nyibukan
jari aja biar gak ngantuk
.
Saking
fokusnya, aku sampe gak tau ada yang datang. Pas ku lihat ke arah wajahnya, ahhh
dia dia dia, aku kaget juga rupanya yang datang itu adalah teman ku.
Ku
persilahkan ia duduk dan aku masih sambil meneruskan celoteh ku sambil memungut
sisa isi kepala yang ku rasakan itu udah hampir buyar.
Jadi
hari ini kami rencananya akan melanjutkan kebiasaan ngopi di warkop, karena
diluar sana sebentar lagi akan turun hujan dan pasti akan menghalangi juga jadi
kami nyantai di rumah dulu.
Sambil
nyeruput kopi, ku tanya balik sama teman
ku. Ada apa ini, sampai-sampai harus repot-repot datang ke tempat ku?
 
Gini,
diluar lagi hujan dan kita gak mungkin juga harus pergi hujan-hujanan, mending
kita ngopi disini dulu setelah hujan reda barulah kita ngopi diluar. Sanggahnya…
Baiklah…
ku lanjutkan dulu kerjaan ku sambil menunggu hujan reda. Karena sebentar lagi
juga kelar nih, nanggung dan mudah-mudahan hujannya gak lama ya, sahut ku
perlahan, sambil melanjutkan senam jari ku diatas keyboard.
Tak
lama kemudian (kira-kira 15 menit) hujan
pun reda dan giliran aku yang tanya sama teman ku tadi.
Di
luar hujan udah reda dan cuaca sepertinya bersahabat, gimana apakah kita bisa
lanjutkan petualangan hari ini? tanya ku sedikit mendesaknya…
Boleh
aja, jawabnya singkat.
Ya
udah, aku siap-siap dulu ya…..
Oke…
Jadi
rencananya kami akan pergi ke sebuah tempat ngopi “Warkop” yang sepertinya asik nih
sambil ngobrol.
Pas
tiba di sana, akhirnya kami pun memesan kopi dan sepotong roti bakar untuk
menemani kopi biar gak sendirian di meja.
Kasian
kopi sendirian, kalo ada temennya kan gak kesepian lagi…dia
Inilah
edisi ngopi paling nikmat ya di Warkop, dan sekarang aku udah gantung cangkir
dulu….kalo pemain sepak bola pensiun kan gantung sepatu, kalo pecinta kopi yang
suka ngopi di warkop ya gantung cangkir…alias pensiun ngopi di warkop.
Untuk sementara “Pensiun
Ngopi di Warkop
“, karena warkop kan udah punya DKI (Dono, Kasino & Indro) Ngopinya
dilanjutin di Rumah Aja…

 

Nih
kalau “Pensiun Ngopi di Warkop” di
bikin buku fiksi or non fiksi bakalan ada yang beli gak ya bukunya?
Pensiun Ngopi di Warkop
Pensiun Ngopi di Warkop
Terinspirasi dari “Preman Pensiun” & “Kopi Sianida” di aduk-aduk dulu jadilah “Pensiun Ngopi

2 thoughts on “Pensiun Ngopi di Warkop”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *