Selalu Ada Alasan untuk Tersenyum Edisi I

Hari
ini teman saya tanya gini sama saya: “ini kok nomornya salah ya bang”. Trus
saya lirik (emangnya cewek doang yang
harus

dilirik
) sedikit kearahnya untuk liat
nomor yang di maksudkan tadi. Saya
jawab gini: “oooo, itu bukan angka 9 melainkan angka 6” saya kebalik nulisnya,
diganti aja, lanjut ku.
Emang
sering terjadi angka 9 ditulis menjadi angka 6, karena itulah ada posisi 69 yang paling fenomenal hingga sekarang,
sambung ku lagi…
Tak
ada reaksi apa-apa dari orang-orang yang mendengar ku tadi. Dan untungnya setelah 45 detik kemudian (kalo gak pas
tak usah protes, soalnya
gak
sempat ngitung durasi waktunya
) seorang
teman yang lain ketawa ketiwi
cekikikan, mendengar celoteh saya. Hahahaha, saya pun bergi berlalu, lambat banget loadingnya broh….
Tak
lama kemudian saya keluar ruangan menuju toilet, dalam toilet saya mulai mikir lagi, kok bisa
ya saya kepikiran jawaban seperti tadi. Dan kalau gak salah kan itu teknik nomor
7 dalam buku KAMASUTRA, ah kacau nih pikiran ku, bisik ku dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.
Selalu Ada Alasan untuk Tersenyum
Kejadian
yang tadi udah lewat, sekarang saya melihat seorang teman yang lain, dia paling
sering melemparkan senyum kepada klien (mudah-mudahan aja giginya gak kering
ya), dan ah senyumnya amat manis.
Pas
ada perlu, saya memanggilnya dengan cara yang tak biasa. Seharusnya namanya
sudah bagus adanya, hadiah dari orang tua. Namanya SUNITA, oleh ku sengaja ku
plesetkan dengan nama panggilan “Teng”.
Dan
benar saja, senyumnya yang sumringah berubah menjadi kecut, dan ah lagi-lagi
saya ketawa ketiwi dibelakangnya. Sekali lagi, saya harus senyum-senyum sendiri.
Selama
3 hari belakagnan ini, teman saya yang namanya “MAMAT” yang sering bikin ketawa
dan tergolong yang paling kocak, gak masuk kerja, trus si bos bilang gini:
“sepi juga ya gak ada si Mamat, si “w” udah turun belom?” udah pak, jawab teman
yang satunya lagi (sengaja namanya saya sensor).
Sementara
itu, saya hanya menjawa dalam hati “pak, kalau mau ramai, panggil aja drum
band, sekalian dengan marawis biar makin rame”. Dan ah, saya lagi-lagi harus senyum-senyum sendiri.
Banyak
hal lucu dan unik disekeliling kita, terkadang tanpa kita sadari bisa membuat
kita tersenyum. Jika kita mau membuka hati untuk mentertawakan diri sendiri
ataupun tingkah orang-orang disekeliling kita, saya yakin gelak tawa akan
selalu menghiasi aktivitas kita.
Di
maki-maki orang pun sebenarnya kita masih bisa tersenyum, jadilah pengamat dan
temukan kelucuan dari makian orang tersebut.
Di
omelin sekalipun kita masih bisa ketawa, apalagi di ketawain orang, udah pasti
kita juga bisa membalasnya dengan ketawa nyengir.
Diperlukan
sense of humor yang tinggi agar kita bisa selalu tersenyum, meskipun ditengah
kesibukan, keruwetan dan kebosanan bahkan ditengah derita sekalipun.
Membayangkan
pembaca yang akan membaca tulisan ini pun saya sambil tersenyum, dan sekali
lagi saya hanya bisa senyum-senyum
sendiri
.
Jangan
kebanyakan senyum sendiri, bisa dibilang gelo! Biar jelek yang penting murah senyum, karena senyum adalah obat stres.
Selalu
ada alasan untuk tersenyum, jadi masihkah Anda mencari-cari alasan untuk tidak
tersenyum?

 

Seruput
dulu sambil senyum biar makin lancar rejekinya!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *